FKIP UHAMKA

Kemukakan Tradisi Maulidan dalam Persfektif Muhammadiyah, FKIP Uhamka Adakan Kajian S3 Berjamaah

Kegiatan pengajian yang bernama Sabtu Selepas Subuh atau yang biasa dikenal dengan singkatan S3 Berjamaah adalah kegiatan yang dilaksanakan setiap Sabtu pagi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) yang dalam pelaksanaan seri ke 154 dengan tema Budaya Maulidan dalam Perspektif Muhammadiyah, di mana budaya Maulidan tersebut merupakan salah kegiatan yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam.

Kegiatan S3 Berjamaah yang dilaksanakan pada 2 Juli tersebut dihadiri oleh para pimpinan Fakultas, dosen-dosen, serta mahasiswa Uhamka yang dalam kesempatan tersebut dinarasumberi oleh Purwidianto.

Purwidianto selaku narasumber mengemukakan hal-ikhwa sejarah awal mula umat islam melakukan tradisi maulidan tidak terlepas dari aktivitas pembacaan kitab Barzanji. Dimana awal mula kegiatan tersebut dilakukan oleh Khalifal Al-Mu’iz Li Dinillah (salah satu khalifah dari dinasti Fathimiyah) pada tahun 341 Hijriyah, yang kemudian kegiatan tersebut turut dipopulerkan oleh khalifah Mudhaffar Abu Sa’id pada 630 H secara besar-besaran dengan mengundang para orator Muslim dalam rangka menggelorakan heroism umat islam. Ia menambahkan bahwa didalam sejarah kegiatan Maulidan ini pernah dilakukan pada masa Khalifah Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 580 Hijriyah dalam rangka menggelorakan semangat umat islam dalam menghadapi perang salib di mana pada saat itu Shalahuddin Al-Ayyubi mengundang para penyair ternama dari kalangan umat islam yang pada akhirnya terpilihlah Syaikh Ja’far Al-Barzanji sebagai pemenang dalam pembuatan syair-syair yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW.

“Tradisi Maulidan/Muludan yang biasanya dilakukan oleh sebagian umat islam di Indonesia yaitu, upacara grebeg maulud, kirab ampyang, muluden, walima dan sebagainya. Dalam hal ini Muhammadiyah berpandangan bahwa tradisi Muludan merupakan hal yang sifatnya ijtihadiyah dan tidak ada kewajiban untuk melaksanakannya, pun demikian pula tradisi ini tidak menimbulkan larangan ketika hendak melaksanakannya,” tutur Purwidianto.

Tradisi ini berpotensi memiliki manfaat yang positif tetapi juga sekaligus memuat potensi-potensi yang negatif. Diantara manfaat yang positifnya adalah kita bisa mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW dan menumbuhkan kecintaan kita terhadap beliau. Membangkitkan semangat beragama, serta dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Sedangkan potensi negatifnya antara lain bisa membawa kesyirikan, mengandung tahayul dan khurafat serta berpotensi memunculkan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Daftar sekarang juga dan ajak teman-temanmu untuk menjadi calon mahasiswa baru di FKIP UHAMKA. Penawaran berbagai macam program beasiswa beserta persyaratannya dapat diakses melalui https://pmb.uhamka.ac.id/ atau langsung saja melalui http://www.fkip.uhamka.ac.id ke menu “Beasiswa Mahasiswa” atau https://linktr.ee/uhamka . Bagi kalian yang ingin mengetahui seluruh program studi di FKIP Uhamka dapat di akses pada https://linktr.ee/fkipuhamka

 

Penulis: Rohmani

Editor: Alif

Stockity